Selamat Datang di EXPOSE PACITAN dan Perbaharui Informasi Terbaru Untuk Anda di Sini, Terima Kasih Telah Berkunjung Semoga Bermanfaat

Jumat, 07 Februari 2014

Slogan Baru Pacitan "Pacitan Paradise of Java" di Hari Jadi Tahun 2014

Pacitan- Tiada terasa pada 19 Januari 2014 nanti, Pacitan telah berusia 269 tahun. Pada perayaan HUT Pacitan ke 269 kali ini akan di-lounching-kan slogan baru untuk Kabupaten Pacitan; “Pacitan Paradise of Java”. 

Untuk tahun ini telah disiapkan beberapa acara serta kegiatan menarik selain sebagai Pesta Rakyatnya Masyarakat Pacitan, juga sebagai sarana promosi kedatangan wisatawan ke Pacitan. Lebih dari sekitar 18 acara telah direncanakan Pemda Pacitan untuk menyemarakkan HUT Pacitan ke 269 tahun ini.

Seperti pernah disampaikan oleh Bapak Indartato, sebagai Bupati Pacitan, bahwa; “…Bagaimana pun juga pemerintah juga tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakatnya. Saya bisa seperti ini karena dukungan dari orang lain. Kalau tidak ada dukungan dari masyarakat itu sendiri, pemerintah pun juga tidak bisa jalan…”. 

Akses Jalan Desa Ploso-Mantren Diperbaiki Pemkab Pacitan

Pacitan- Akses jalan di dusun Jatisari Desa Ploso menuju Desa Mantren yang terputus karena banjir akhirnya diperbaiki. Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pacitan telah mengirimkan material perbaikan jalan tersebut dan telah memulai pekerjaan perbaikan.

Sebelumnya hujan deras yang mengguyur wilayah Desa Ploso Kecamatan Punung telah mengakibatkan terputusnya akses jalan menuju Desa Mantren, sehingga jalan tersebut tidak dapat dilalui kendaraan. Warga desa berupaya membuat jembatan sederhana yang terbuat dari bambu agar pejalan kaki tetap bisa lewat.

Bupati Pacitan, Bpk Indartato pada saat kunjungan kerja tilik warga ke Desa Ploso (20/1/2014) telah meninjau lokasi longsor tersebut dan memerintahkan jajarannya untuk segera memperbaiki jalan tersebut. Kini jalan tersebut telah dalam proses pengerjaan dan beberapa hari kedepan diharapkan selesai sehingga jalan tersebut dapat segera dilalui kendaraan.

Lomba "nDayung" Prau Mancung di Pacitan 2014

Pacitan- Perahu Mancung adalah perahu kecil yang digunakan oleh nelayan tradisional Pacitan yang bentuknya sangat unik, terbuat dari kayu dan berwarna putih. keberadaannya hampir punah karena sudah banyak yang beralih ke perahu modern/fiber.

Dalam upaya mengembangkan pariwisata, di upayakan dapat membangkitkan ekonomi masyarakat. Potensi ekonomi masyarakat yang bercirikan gotong royong / kooperatif inilah menjadi harapan penumbuh kembang kesejahteraan masyarakat luas.

Dengan pemikiran tersebut, kami menginginkan kolaborasi potensi antara olahraga, budaya, pariwisata dan ekonomi saling mendukung dengan melaksanakan kegiatan “Lomba nDayung Perahu Mancung I”.

Maksud dan Tujuan diadakannya lomba Ndayung Prau Mancung I adalah:
Menggali Potensi Wisata Bahari
Menggali Potensi Ekonomi
Menggali Potensi Prestasi
Menggali Potensi Rekreasi
Peduli tradisi / mempertahankan keberadaan perahu yang unik dan menarik yang menjadi naluri nelayan tradisional Pacitan agar tidak cepat punah.


MUI Pacitan Mengecam Pelaku Maksiat Sudah Seperti Binatang

Pacitan- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pacitan-Jawa Timur, mengecam dan menuding pelaku kemaksiatan, tidak lagi punya rasa malu, melakukan perzinahan hingga di tempat-tempat terbuka, layaknya sudah seperti binatang. 

Kecaman itu disampaikan Ketua MUI Kabupaten Pacitan, KH. Aries Mashudi, menyusul sudah sering pihaknya menerima pengaduan warga berkenaan pelaku perbuatan cabul kemaksiatan dan  perzinahan yang sudah tidak memandang tempat. Sudah seperti tidak punya malu, melakukan di tempat-tempat terbuka.  Dalam mengadu, warga masyarakat juga menunjukkan bekas-bekas bungkus alat kontrasepsi, yang ditemukan di tempat-tempat terbuka, terutama  di sejumlah taman kota dan pantai. Lebih khusus, taman di pantai Pancer, sekitar tiga kilometer arah barat daya Kota Pacitan, agaknya menjadi pilihan pasangan-pasangan mesum, untuk menyalurkan nafsu bejatnya. 

“Pantai Pacitan, sangat indah. Didukung upaya Pemerintah Kabupaten Pacitan untuk meningkatkan daya tarik keindahan itu dengan  mengembangkan taman-taman. Sayang belakangan taman-taman, yang memang diantaranya banyak tumbuhan perdu yang rimbun, dimanfaatkan secara tidak bertanggungjawab oleh sebagian warga untuk menyalurkan hasrat bejat, berbuat maksiat,” ungkap KH. Aries Mashudi dengan nada geram.

Kamis, 06 Februari 2014

Salah Prediksi, Bisa-bisa Kena Macet di Jalur Pacitan-Ponorogo

Pacitan - Pelebaran jalan pada jalur Pacitan-Ponorogo memang tinggal menyisakan beberapa meter. Namun medan yang sulit membuat pengeprasan tebing berjalan lambat. Ini karena lapisan tanah berupa bongkahan batu. Akibatnya, pengaturan lalu lintas masih diberlakukan sistem buka tutup.

Pantauan jatimupdate.com, Kamis (6/2/2014) di ruas Dusun Gamping, Desa Ngreco, Kecamatan Tegalombo yang merupakan titik pelebaran, tiap hari ratusan kendaraan tampak mengular. Selama alat berat bekerja, lalu-lintas kedua jalur ditutup. Portal baru dibuka tiap jam.

"Sudah setengah jam saya mengantri. Ya harus sabar, namanya juga lagi dilebarkan," ucap Bambang Setyono, warga Ponorogo saat berada diantara ratusan pengendara motor lain yang terjebak macet.

Logistik Pemilu di Pacitan Telah Siap

Pacitan - Menjelang pelaksanaan pemilu legislatif 9 April mendatang, sebagian besar logistik di Pacitan siap. Diantaranya kotak dan bilik suara, alat coblos, alat tulis kantor, serta tanda pengenal untuk KPPS dan untuk saksi.

Pantauan jatimupdate.com di Kantor KPU Pacitan, Jl Veteran, beragam jenis logistik tersebut diangkut dengan truk. Setelah diturunkan, barang-barang itu disimpan sementara di gudang sebelum didistribusikan.

"Seluruh kelengkapan tersebut pengadaannya dilakukan KPU Pacitan dan saat ini sudah siap," ujar komisioner KPU Pacitan bidang logistik, Agus Hadi Prabowo, Kamis (5/2/2014) siang.

Adapun kelengkapan lain yang nantinya akan dikirim oleh KPU Provinsi antara lain formulir di tingkat PPK dan PPS sekaligus sampulnya. Kelengkapan-kelengkapan tersebut dijadwalkan tiba pekan depan.

Siapa Cawabup Pacitan? Bupati Menunggu Rekomendasi DPP Partai Demokrat Turun

Pacitan- Dua pekan lagi waktu yang tersisa untuk mengumumkan ke publik nama Wakil Bupati (Wabup) Pacitan yang baru. Rencananya, pengumuman itu akan dilakukan tepat pada puncak peringatan HUT Ke-269 Kabupaten Pacitan 19 Februari mendatang. Meski begitu, Bupati Indartato tidak mau ambil pusing.

Dia lebih memilih wait and see. Menunggu turunnya rekomendasi DPP Partai Demokrat. Padahal, berlarut-larutnya proses penentuan nama calon wabup Pacitan telah menimbulkan berbagai spekulasi dari kalangan masyarakat. Kemarin (5/2) di Pendopo Pemkab Pacitan, Indartato mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan DPP Partai Demokrat terkait penentuan cawabup. Dia menanyakan sejauh mana prosesnya.

Bagaimana hasilnya? Dia mengaku tidak tahu. Indartato hanya meminta masyarakat menunggu hingga rekomendasi dari DPP Partai Demokrat turun. 

BTS Selular Disoal Warga Lantaran Sewa Lahan Berakhir

PACITAN- Keberadaan tower BTS milik salah satu provider telepon seluler di sepanjang Jalan Gadjah Mada, atau tepatnya dibelakang pasar kobong, Kelurahan Baleharjo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, kembali disoal warga. Itu terkait izin gangguan (HO) yang sudah diperpanjang, namun ditengarai tidak melalui persetujuan warga setempat. 

Akibatnya, beberapa warga yang berjumlah sekitar 52 KK itu, menuntut kepada perusahaan penyelenggara komunikasi seluler untuk membayar ganti rugi sebesar Rp. 365 juta. Dana kompensasi tersebut terbagi dalam dua klasifikasi. Klasifikasi pertama, yaitu perumahan warga yang berjarak sekitar 30 meter dari pusat menara, meminta kompensasi Rp. 10 juta/KK. Jumlahnya sekitar 8 KK.Sementara klasifikasi kedua, dengan nominal Rp. 5 juta/KK. Jumlahnya sekitar 44 KK. 

“Awalnya, pihak perusahaan telepon seluler hanya menyetujui Rp. 50 juta untuk semua warga terdampak, tanpa ada klasifikasi,” ujar salah seorang warga setempat yang enggan dikorankan namanya, Kamis (6/2).

Atas penawaran itu, warga belum bisa menerima. Terlebih mereka yang bermukim tak jauh dari berdirinya menara tertua di Pacitan tersebut. Setelah dilakukan beberapa kali pertemuan, akhirnya pihak perusahaan kembali menyampaikan penawaran dengan nominal tiga kali lipat lebih besar dari penawaran sebelumnya. Yaitu Rp. 150 juta tanpa memandang klasifikasi lokasi.