Selamat Datang di EXPOSE PACITAN dan Perbaharui Informasi Terbaru Untuk Anda di Sini, Terima Kasih Telah Berkunjung Semoga Bermanfaat

Jumat, 11 Mei 2012

Ramai di BBM: Penumpang Sukhoi Pakai HP di Pesawat



Ramai di BBM: Penumpang Sukhoi Pakai HP di PesawatTRIBUNNEWS.COM - Penyebab jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 buatan perusahaan Rusia masih belum jelas.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), lembaga berwenang yang melakukan penyelidikan, tentu membutuhkan waktu untuk mengungkapkan apa penyebab kecelakaan tersebut.
Sukhoi Superjet 100 melakukan joy flight, Rabu (9/5/2012), dari Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta.
Pesawat itu tiba-tiba hilang kontak pada ketinggian 10 ribu kaki, lalu ditemukan jatuh di lereng Gunung Salak, Jawa Barat, Kamis (10/5/2012). Pesawat itu mengangkut 42 penumpang (antara lain jurnalis, pengusaha, pramugari, dan pilot Sky Aviation), serta delapan kru.
Berbagai pertanyaan dan dugaan muncul di publik, yang kira-kira terkait dengan pertanyaan mengapa kecelakaan tragis itu bisa terjadi.
Seorang pilot demo terbaik, Mogomed Tolboev, mengatakan kepada media Rusia bahwa kecelakaan Sukhoi Superjet 100 kemungkinan terkait dengan masalah persiapan penerbangan.
"Kemampuan para awak Sukhoi selalu diandalkan dan hanya sedikit yang meragukan. Tur promosi Superjet ini adalah yang pertama dengan pilot profesional dan berpengalaman," tulis BBC yang menggambarkan faktor kemampuan awak dan pilot bisa diandalkan.
Dilansir TRIBUNnews.com, Pemimpin Redaksi Angkasa Adrianus Dharmawan menilai, pesawat Sukhoi SSJ 100 itu melakukan penerbangan yang tidak lazim.
Hal itu disebabkan adanya penurunan ketinggian pesawat dari 10 ribu kaki ke 6.000 kaki.
"Prosedur penerbangan secara umum, bila di daerah pegunungan ada cuaca buruk, minimal harus terbang beberapa ratus kaki di atas ketinggian maksimal gunung di situ," kata Dharmawan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (10/5/2012).
Dharmawan mengatakan, di lokasi tersebut terdapat tiga gunung, yakni Halimun, Pangrango, dan Salak. Gunung tertinggi adalah Halimun, yakni 8.000 kaki.
Anggota DPR RI Teguh Juwarno menyoroti alat Emergency Located Transmitter (ELT) yang terdapat pada pesawat Sukhoi Superjet 100. Alat ini ternyata tidak menyala saat pesawat itu menabrak tebing.
Chappy Hakim, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara mempertanyakan keputusan petugas Air Traffic Controller (ATC) Bandara Soekarno Hatta Cengkareng yang mengizinkan Sukhoi terbang rendah hingga 6.000 kaki dari sebelumnya 10.000 kaki.
Nahas, pesawat tersebut menabrak Gunung Salak dan ditemukan jatuh di puncak Gunung Salak II yang memiliki ketinggian 7.152 kaki.
Muncul pula pertanyaan lain. Benarkah faktor penyebab kecelakaan adalah penggunaan handphone pada saat pesawat Sukhoi itu sedang terbang?
Berbagai pesan berantai mengenai masalah ini muncul sejak Kamis (10/5/2012) malam. Ada yang menyertakan link (tautan) berita yang terkait dengan dugaan tersebut.
Pagi ini muncul lagi. Salah satunya dari Kompasiana, blog yang dioperasikan KOMPAS.com. Tulisan dari blogger dengan nama Seand Munir ini berjudul "Ternyata Para Penumpang Sukhoi Itu Mengaktifkan HPnya di Pesawat".
Tulisan tersebut, Jumat (11/5/2012) pagi ini, sudah dibaca 135.980 kali, termasuk yang paling banyak dibaca.
Artikel itu cukup panjang, terutama mengulas bagaimana bahaya sinyal telepon selular dalam penerbangan, tapi bagian yang mengulas mengenai penumpang yang menggunakan HP hanya ini:
"Sejumlah penumpang pesawat naas Sukhoi itu ternyata mengaktifkan HPnya tepat di saat pesawat sedang terbang. Terbukti sejumlah panggilan ke HP mereka nyambung. Padahal ini sangat tak diperbolehkan dan bisa membahayakan penerbangan.
Misalnya telepon seluler alias HP dua wartawan majalah Angkasa,  masih aktif saat dihubungi pukul 17.00 WIB. Tapi keduanya tidak mengangkat telepon. Demikian juga seorang istri yang mengontak suaminya di Sukhoi itu juga aktif HPnya.
Apakah karena para penumpang itu menganggap Sukhoi kali ini adalah dalam penerbangan Joy flight? di luar jalur penerbangan komersial biasa?"
Tentu KNKT-lah yang perlu menyelidiki kemungkinan ini. Bagaimanapun, kecelakaan besar itu, yang merenggut begitu banyak nyawa, harus diteliti dan hasilnya dilaporkan ke publik.
Akbar Faisal, anggota DPR RI dari Partai Hanura, mengirim komentar kepada TRIBUNnews.com.
"Peraturan tentang keselamatan penerbangan itu sangat baku tapi seringkali penumpang masa bodoh dan baru sadar ketika kecelakaan sudah terjadi," katanya.
Seperti banyak pihak, Akbar berharap KNKT mampu menjawab mengapa Sukhoi naas itu bisa jatuh.
"Kinerja KNKT sejauh ini masih sangat bagus. Kita tunggu hasil investigasi mereka," ujar Akbar.
Ya, kita tunggu KNKT sembari mengirimkan doa kepada para korban. Juga doa untuk keluarga korban yang menanti dengan cemas.(*)

Selasa, 08 Mei 2012

Pertumbuhan dan Perkembangan : Ortogenetik dan Filogenetik


Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Banyak orang menggunakan istilah “pertumbuhan” dan “perkembangan” secara bergantian. Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah berdiri sendiri-sendiri. 

Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak sehat.

Hasil pertumbuhan antara lain berwujud bertambahnya ukuran fisik seseorang. Pertumbuhan jasmani berakar pada organisme yang selalu berproses untuk menjadi sempurna. Perbedaan kecepatan tumbuh masing-masing bagian tubuh mengakibatkan adanya perbedaan dalam keseluruhan bentuk anggota badan dan juga menimbulkan fungsi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal pada organisme antara lain yaitu faktor yang terjadi sebelum lahir seperti faktor kekurangan nutrisi pada ibu dan janin. Selain itu faktor kelahiran atau pada saat lahir juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan organisme seperti pendarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu dia dilahirkan.

 Faktor lainnya yaitu faktor yang dialami oleh bayi sesudah lahir seperti mengalami serangan sinar matahari. Faktor psikologis juaga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan organisme karena faktor psikologis sangat mempengaruhi pertumbuhan fisik organisme.

Jadi pengertian pertumbuhan secara umum adalah bertambahnya jumlah ukuran-ukuran fisik seseorang dan berakitan dengan perubahan kuantitatif.

Perkembangan secara dikemukakan oleh Werner (1957) sebagai berikut: “Perkembangan sejalan dengan prinsip orthogenetis, bahwa perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai kekeadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan itegrasi meningkat secara bertahap”.

Sejak bayi dilahirkan, ia telah mempunyai gambaran total atau gambaran lengkap tentang dunia ini, hanya saja masih kabur dan samar-samar.Terbawa oleh perkembangannya, gambaran total yang samar-samar tersebut lama-lama menjadi berubah menjadi nyata,jelas dan bentuknya semakin lengkap.Dalam hubungannya dengan konsep perkembangan yang orthogenetic yang dikemukakan oleh Werner ini, maka perubahan-perubahan ke arah masa depan menunjukkan adanya kontinuitas.

Pada anak prasekolah dan taman kanak-kanak tampak adanya diskontinuitas, sedang pada kelompok umur yang lebih tinggi sampai dengan mahasiswa menunjukkan adanya kontinuitas.
Menurut Nagel (1957) perkembangan merupakan pengertian di mana terdapat strukur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, oleh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi.

Menurut Schneirla (1957), perkembangan adalah perubahan-perubahan progresif dalam organisasi individu, dan organisasi ini dilihat sebagai sistem fungsional dan adaptif sepanjang hidupnya. Perubahan-perubahan ini meliputi dua faktor yaitu faktor kematangan dan pengalaman.
Spiker (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan, yakni:
1.   Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
2.   Filogenetik yaitu perkembangan dari asal-usul manusia sampai sekarang ini.

Bijou dan Baer(1961) mengemukakan perkembangan psikologis adalah perubahan progresif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungan. Rumusan lain tentang arti perkembangan dikemukakan oleh Libert, Paulus, dan Strauss (Singgih, 1990:31), yaitu bahwa: 
“Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungfi kematangan dan interaksi dengan lingkungan”. 

Perkembangan dapat juga dilukiskan sebagai proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kematangan, dan belajar (Monks, 1984:2).

Jadi, proses perkembangan adalah suatu proses dalam diri individu dalam menuju proses kedewasaan dalam berpikir dan semakin meningkatnya proses kematangan dan pangalaman. Perubahan-perubahan meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut dapat dibagi menjadi 4 kategori yaitu perubahan dalam ukuran, perubahan dalam perbandingan, perubahan untuk mengganti hal-hal yang lama, dan perubahan untuk memperoleh hal-hal yang baru.

Definisi Remaja untuk Masyarakat Indonesia


Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat dan tingkatan sosial-ekonomi, maupun pendidikan. Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11 – 24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut:

1) Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik).

2) Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik, baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi mempermalukan mereka sebagai anak-anak (kriteria sosial).

3) Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif maupun moral.

4) Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang lain, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara tradisi).

5) Status perkawinan sangat menentukan, karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga.

WHO menetapkan batas usia 19-20 tahun sebagai batasan usia remaja. WHO menyatakan walaupun definisi di atas terutama didasarkan pada usia kesuburan wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria, dan WHO membagi kurun usia dalam 2 bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.

PBB sendiri menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda (youth) dalam rangka keputusan mereka untuk menetapkan tahun 1985 sebagai Tahun Pemuda Internasional.
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya kelihatan sudah “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal menunjukkan kedewasaannya. Pada remaja sering terlihat adanya:

1) Kegelisahan: Keadaan yang tidak tenang menguasai diri si remaja. Mereka mempunyai banyak macam keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi.

2) Pertentangan: Pada umumnya timbul perselisihan dan pertentangan pendapat dan pandangan antara si remaja dan orang tua. Selanjutnya pertentangan ini menyebabkan timbulnya keinginan remaja yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua.

3) Berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahuinya. Mereka ingin mencoba apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Malapetaka akan dialaminya sebagai akibat penyaluran yang tidak ada manfaatnya.

4) Keinginan menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan pramuka, kelompok atau himpunan pecinta alam, dan sebagainya.

5) Mengkhayal dan berfantasi: Khayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga karier.

6) Aktivitas berkelompok: Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dengan berkumpul-kumpul melakukan kegiatan bersama, mengadakan penjelajahan secara berkelompok.

Remaja: Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangannya


Remaja: Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangannya

Remaja itu sulit didefinisikan secara mutlak. Oleh karena itu, dicoba untuk memahami remaja menurut berbagai sudut pandangan, antara lain menurut hukum, perkembangan fisik, WHO, sosial psikologi, dan pengertian remaja menurut pandangan masyarakat Indonesia.

1.   Remaja Menurut Hukum
Dalam hubungan dengan hukum, tampaknya hanya undang-undang perkawinan saja yang mengenal konsep “remaja” walaupun tidak secara terbuka. Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (Pasal 7 Undang-Undang No.1/1974 tentang Perkawinan).

2.   Remaja Ditinjau dari Sudut Perkembangan Fisik
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Masa pematangan fisik ini berjalan kurang lebih 2 tahun dan biasanya dihitung mulai menstruasi (haid) pertama pada anak wanita atau sejak anak pria mengalami mimpi basah (mengeluarkan air mani pada waktu tidur) yang pertama kali. Khusus berkaitan dengan kematangan seksual merangsang remaja untuk memperoleh kepuasan seksual. Hal ini dapat menimbulkan gejala onani atau masturbasi. Kartini Kartono (1990: 217) memandang gejala onani ini sebagai tindakan remaja yang negatif, karena gejala ini merupakan usaha untuk mendapatkan kepuasan seksual yang semu (penodaan diri).

3.   Batasan Remaja Menurut WHO
Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual  sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Muangman, yang dikutip oleh Sarlito, 1991: 9)
4.   Remaja Ditinjau dari Faktor Sosial Psikologis

Salah satu ciri remaja di samping tanda-tanda seksualnya adalah: “Perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa”. Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses perubahan dari kondisi “entropy” ke kondisi “negen-tropy” (Sarlito, 1991: 11).

Entropy adalah keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi. Walaupun isinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dan sebagainya), namun isi-isi tersebut belum saling terkait dengan baik, sehingga belum bisa berfungsi secara maksimal. Isi kesadaran masih saling bertentangan, saling tidak berhubungan sehingga mengurangi kerjanya dan menimbulkan pengalaman yang kurang menyenangkan buat orang yang bersangkutan.
Negentropy adalah keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap. 

Orang dalam keadaan negentropy ini merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan tujuan yang jelas, ia tidak perlu dibimbing lagi untuk bisa mempunyai tanggung jawab dan semangat kerja yang tinggi.

Hukum Cephalocoudal dan Proximodistal


1.   Hukum Cephalocoudal

Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Bagian-­bagian pada kepala tumbuh lebih dahulu daripada bagian-bagian lain. Hal ini sudah terlihat pada pertumbuhan pranatal, yaitu pada janin. Se­orang bayi yang baru dilahirkan mempunyai bagian-bagian dan alat-alat pada kepala yang lebih “matang” daripada bagian-bagian tubuh lainnya. Bayi bisa menggunakan mulut dan matanya lebih cepat daripada anggota badan lainnya. Baik pada masa perkembangan pranatal, neonatal, rnaupun anak-anak, proporsi bagian kepala dengan rangka batang tubuhnya mula-mula kecil dan makin lama perbandingan ini makin besar.

2.   Hukum Proximodistal

Hukum Proximodistal adalah hukum yang berlaku pada pertumbuhan fisik, dan menurut hukum ini pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Alat-alat tubuh yang terdapat di pusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ada di tepi. Hal ini tentu saja karena alat-alat tubuh yang terdapat pada daerah pusat itu lebih vital daripada misalnya anggota gerak seperti tangan dan kaki. Anak masih bisa me­langsungkan kehidupannya bila terjadi kelainan-kelainan pada anggota gerak, akan tetapi bila terjadi kelainan sedikit saja pada jantung atau ginjal bisa berakibat fatal.

Hukum - hukum pertumbuhan : Cephalocaudal vs Poximodital


--Hukum “Cephalocaudal Principles” (Dimulai dari kepala lalu sampai ke ekor). Contohnya seperti halnya janin dalam kandungan. Saat di dalam kandungan sel-sel membelah diri dan membentuk kepala lalu tubuh, anggota gerak tangan dan kaki, dan barulah ekor.

--Hukum “Poximodital Principles” (Dimulai dari hal-hal yang dekat sampai hal-hal yang terjauh). Contohnya seperti Bayi yang belajar mulai dari anggota tubuhnya, menggerakan jari, berguling-guling, lalu mulai mengenal hal-hal di sekelilingnya seperti ibu, ayah. Semakin dewasa individu semakin berpikir hal-hal yang jauh bahkan hal yang tak terjangkau penglihatan, seperti cita-cita dan rencana masa depan.

Kamis, 03 Mei 2012

Kiat-kiat Bertemu Calon Mertua

Saat hubungan Anda dan si dia telah serius, kinilah saatnya bertemu orangtuanya. Tapi jangan sampai pertemuan yang penting ini membuat hubungan yang telah Anda jalin justru berakhir berantakan. Tak ingin gagal? Baca dulu kiat-kiat berikut.

WaktuWaktu yang tepat adalah segalanya. Memilih waktu yang salah hanya akan membuat rencana Anda dan pasangan berantakan. Konsultasikan dengan kekasih, kapan orangtuanya memiliki waktu luang, sehingga dengan sendirinya, suasana hati mereka pun tengah baik.

Kenali lebih dalam
Cari tahu "nilai-nilai" apa yang berlaku di keluarga kekasih. Hal ini akan membuat Anda lebih mudah untuk berbaur dengan orangtuanya. Jangan sampai perbedaan nilai membuat Anda dinilai tidak sopan oleh mereka. Sesuaikan diri Anda dengan baik.

Tempat

Tempat bertemu juga memengaruhi kesuksesan pertemuan. Hindari tempat yang terlalu ramai dan bising yang bisa membuat orangtua kekasih merasa tidak nyaman. Lebih baik pilih tempat yang nyaman, seperti sebuah kafe keluarga dengan alunan musik balada atau jazz yang lembut. Suasana tenang juga akan membuat hati menjadi senang.

Tepat waktuJangan sampai kesan pertama diri Anda rusak hanya karena datang terlambat. Lebih baik datang lebih dulu demi menghormati orangtua kekasih.

Hadiah
Tak ada salahnya membawa hantaran sederhana untuk menyenangkan orangtua kekasih. Diskusikan lebih dahulu dengan kekasih, hadiah apa yang paling tepat diberikan. Hal ini dapat memperlihatkan perhatian Anda pada keluarga kekasih.

Penampilan
Jangan lupa mempersiapkan penampilan Anda. Tampil seksi sangat tidak disarankan. Lebih baik gunakan pakaian yang sederhana, namun tetap terlihat elegan. Terusan sepanjang lutut, atau paduan kemeja dan celana jeans bisa menjadi pilihan yang tepat. Tata rambut juga harus diperhatikan. Pilihlah tatanan rambut yang rapi dan apik. Pilihlah tema warna make-up yang lembut dan natural sehingga penampilan tak tampak berlebihan. Hindari juga memakai terlalu banyak aksesori. Lebih baik pilih tampilan aman dan sederhana.

Topik pembicaraanHati-hati memilih topik pembicaraan. Pilihlah topik yang netral tanpa menyudutkan pihak manapun (misalnya bertema SARA). Jangan lupa juga tunjukkan keahlian Anda, misalnya bicarakan prestasi di bidang pekerjaan. Hal ini akan menjadi nilai plus yang tepat. Tapi hati-hati ya, jangan sampai Anda justru terkesan sombong dan angkuh.

Memuji

Jangan lupa untuk memuji. Carilah kelebihan orangtua pasangan, dan ungkapkan kekaguman Anda. Berikanlah pujian dengan tulus. Pujian palsu hanya akan membuat Anda terlihat dan terdengar munafik.

Semoga sukses!

Pernikahan Mantan Kekasih, Datang Atau Tidak?

Pernahkah Anda mengalami dilema saat menerima undangan pernikahan dari mantan kekasih. Apakah Anda perlu datang ke pesta tersebut atau lebih baik menghindar?

Ada beberapa pertimbangan yang harus Anda lakukan sebelum memutuskan jawaban dari pertanyaan di atas. Ini dia!

Bagaimana cerita perpisahan Anda

Tak semua hubungan berjalan mulus. Kadang bisa berakhir baik, namun ada pula yang justru diakhiri dengan amarah serta dendam. Coba ingat-ingat bagaimana bentuk hubungan Anda dengan mantan terakhir kali bertemu. Jika Anda merasa masih banyak emosi atau amarah yang terpendam, sebaiknya tak perlu datang, ketimbang kemungkinan “drama” yang bisa Anda lakoni di pesta tersebut. Tapi jika hubungan Anda dan mantan layaknya teman, tak ada alasan bagi Anda untuk tidak datang.

Pertimbangkan lingkungan sosial
Terkadang ketidakhadiran Anda juga memiliki akibat lain. Misalnya menjadi bahan pembicaraan lingkungan sosial. Jika tak ingin datang, pastikan lingkungan sosial Anda dan pasangan tidak akan mengembangkan rumor atau berpendapat negatif.

Pertimbangkan perasaan pasangan

Walau Anda dan mantan tak memiliki masalah apa-apa, tapi jangan lupa juga untuk meminta pendapat pasangan. Jika datang ke pernikahan mantan hanya akan membuat pasangan Anda terluka, sebaiknya tak perlu dilakukan. Lebih baik Anda fokus ke hubungan yang tengah dijalani, ketimbang masa lalu.

Pertimbangkan tujuan
Cobalah jujur pada diri sendiri: apa yang menjadi motivasi Anda saat hadir ke pernikahan mantan kekasih. Jika tujuan Anda murni bersilaturahmi dan reuni dengan teman, tentu tak ada salahnya. Tapi jika tersimpan keinginan membuat mantan menyesal telah meninggalkan Anda, atau membuat calon istri mantan terintimidasi dengan kecantikan Anda, lebih baik jangan datang. Hal ini membuktikan masih ada emosi terpendam dalam diri. Jangan sampai keegoisan Anda menghancurkan kebahagiaan orang lain.